pria ini didiagnosis dokter dengan tonsilitias alias radang amandel.
Tapi beberapa hari setelah diberi penisilin, di ketiak, pangkal paha dan
pantatnya muncul ruam. Apa yang terjadi?
Kondisi ini secara
formal disebut dengan symmetrical drug-related intertriginous and
flexural exanthema (SDRIFE) atau semacam alergi terhadap obat
antibiotik. Nama lainnya adalah sindrom baboon, karena ruam di pantat
pasien hampir menyerupai warna pantat beberapa jenis monyet yang juga
cenderung memerah.
Namun karena dokter kerap meresepkan
antibiotik seperti penisilin untuk mengobati amandel dan infeksi akibat
bakteri lainnya, peneliti merasa kasus yang dialami pria berusia 40
tahun ini penting untuk diketahui. Pasalnya sindrom baboon bisa jadi
salah satu efek samping dari konsumsi antibiotik tersebut.
"Sindrom
baboon biasanya disebabkan oleh reaksi alergi terhadap penisilin, tapi
bisa juga karena paparan logam merkuri atau nikel," ungkap Dr Andreas
Bircher, dokter spesialis kulit dari University Hospital of Basel di
Swiss. Meski tidak terlibat dalam studi ini, Dr Bircher pernah menemukan
kasus lain dari sindrom baboon.
Dari hasil pemeriksaan awal yang
dilakukan tim dokter NHS Lothian Hospital UK yang menemukan kasus ini
diketahui bahwa tonsil atau amandel pasien tersebut membesar dan
meradang.
Dokter yang menangani pria ini kemudian meresepkan
penisilin, tapi dua hari kemudian ia malah kesulitan menelan makanan.
Lalu dokter jaga UGD yang melihatnya memberinya benzylpeniciliin
intravena empat kali sehari dan dosis tunggal dexamethasone intravena,
obat steroid yang digunakan untuk mengatasi radang.
Keesokan
harinya, pasien tersebut mengeluhkan munculnya ruam di sekitar pangkal
paha dan paha bagian dalamnya. Dokter pun berasumsi itu adalah reaksi
tubuh pasien terhadap penisilin, sehingga kemudian ia mengubah
antibiotik itu menjadi clarithromycin (sama-sama antibiotik namun beda kelas dengan penisilin) Hari ketiga di rumah sakit, pasien mengaku kondisi tenggorokannya sudah
jauh lebih baik dan ia bisa menelan cairan maupun makanan yang
teksturnya lembut. Hanya saja ruamnya malah menyebar dan menjadi terasa
nyeri.
Pada saat itu, ruam itu telah mendominasi ketiak, pantat,
perut bagian bawah dan paha atasnya. Bahkan di pangkal pahanya mulai
muncul gejala nekrosis atau jaringan mati.
Melihat kondisi pasien
yang sudah separah ini, dokter dipaksa untuk segera menentukan apa yang
sebenarnya terjadi pada pasien ini. Apakah ia mengalami reaksi obat
yang parah (yang mungkin akan sembuh dengan sendirinya), atau infeksi
berbahaya yaitu akibat adanya bakteri pemakan daging (necrotizing
fasciitis) yang membutuhkan prosedur pengangkatan jaringan yang
terinfeksi atau mati secepatnya.
Tim dokter lalu mulai memberikan
broad-spectrum antibiotics non-penisilin kepada pria ini, yang diklaim
dapat melawan berbagai penyakit karena bakteri. Dokter juga mengambil
sampel jaringan dari pangkal paha kanan pasien.
Setelah dites,
dalam sampel jaringan pria tersebut tidak ditemukan adanya bakteri
pemakan daging, sehingga dokter bisa menentukan diagnosis yang pas untuk
si pasien, yaitu sindrom baboon.
"Tapi sebenarnya ini adalah
kondisi yang sangat tak biasa. Dan untuk alasan yang tidak diketahui,
kondisi ini cenderung lebih banyak ditemukan pada pasien pria yang sudah
melewati masa puber," terang Dr Bircher seperti dilansir Livescience, Sabtu (21/12/2013).
Pasien
ini pun akhirnya berhenti mengonsumsi antibiotik dan sebagai gantinya,
ia menggunakan steroid oral dan topikal untuk mengobati ruamnya. Ia pun
diperbolehkan pulang 11 hari setelah pertama kali masuk dan ruamnya
dilaporkan hilang
Sign up here with your email

ConversionConversion EmoticonEmoticon